Tag Archives: Lombok

Sepotong kisah dari sepotong surga di Nusantara – 1

Sepotong kisah dari sepotong surga di Nusantara – 1

Semalam saya sampai di rumah jam setengah 1 pagi. Dengan badan merah terbakar dan sedikit pegal-pegal, pikiran yang sedikit lelah, serta hati dan rasa yang puas. Selama 3 hari sebelumnya, saya menghabiskan liburan pendek saya di Gili Trawangan – sebuah pulau kecil di pinggir barat pulau Lombok.

Perjalanan ini tidak terlalu efisien, karena saya terbang dari Jakarta ke Denpasar, lalu tinggal semalam di Denpasar, baru kemudian terbang ke Mataram. Sebenarnya akan lebih hemat biaya dan waktu kalau saya terbang langsung dari Jakarta ke Mataram. Tapi, perjalanan itu tetap menyenangkan.

Nusa Lembongan - dari atas pesawat menuju Mataram

Saya terbang dari Denpasar ke Mataram hari Jumat siang, sekitar jam 12.30. Naik Merpati, yang mengalami keterlambatan selama 20 menit. Penerbangan hanya memakan waktu 30 menit, dan setelah mendarat kami langsung dijemput oleh hotel tempat kami menginap – Villa Ombak, di Gili Trawangan. Untuk mencapai Gili Trawangan, kami harus naik mobil sampai Teluk Kodek kemudian melanjutkan dengan kapal motor kecil.

Dari bandara Selaparang sampai Teluk Kodek memakan waktu 45 menit naik mobil, dan perjalanannya sangat mengesankan. Melewati perbukitan dan pegunungan yang masih asri, beberapa petak lahan persawahan, dan perumahan penduduk. Perjalanan ini mengingatkan saya akan perjalanan di daerah Tegalalang di Bali, tapi lebih “alami”. Perjalanan dari Teluk Kodek sampai pelabuhan Bangsal di Gili Trawangan hanya 10 menit. Jika naik kapan ferry umum, biayanya hanya sekitar 30rb per orang sekali jalan.

Teluk Kodek, dan kapal ferry berwarna kuning yang membawa kami

Begitu menepi di Gili Trawangan, kami tahu mengapa bagi beberapa orang tempat ini seperti surga. Matahari bersinar dengan terik, hamparan pasir putih, dan lautan yang membentang sebiru batu pirus. So is this what a glimpse of heaven looks like?

Read the rest of this entry

Tentang sekali-sekali spontan

Tentang sekali-sekali spontan

Saya selalu merasa kalau saya adalah orang yang sangat terencana. Saya selalu punya agenda dan to-do list, untuk mencatat apa saja yang akan dan harus saya lakukan. Saya suka merencanakan sebuah acara, perjalanan, termasuk juga ketemuan dengan teman – in advance. Kalau bisa paling tidak 3 hari sebelumnya semua sudah jelas.

Mengenai rencana perjalanan, saya termasuk yang agak obsesif. Harus tahu kita akan kemana hari pertama, hari kedua, hari ketiga, dst. Atau paling tidak, sudah ada list tempat-tempat yang akan dikunjungi. Jadi ketika sampai di tempat tujuan hanya tinggal memilih saja yang mana yang paling nyaman itinerarynya.

Lalu, beberapa bulan yang lalu saya berpikir – I want to be more adventurous! Lebih spontan, lebih berani mengambil keputusan, dan lebih “ayo!”. Saya suka iri ketika adik saya bilang dia mau ke Karimun Jawa minggu depan, atau ketika teman saya bilang dia akan pergi ke Anyer besok. Waaah, senangnyaa!!! Aku ingiiin!! – begitu yang ada di benak saya. Tapi I’ve never done anything like that.

Sampai tiga hari yang lalu. Ketika dia mengajak saya untuk pergi ke Bali, menemani dia menemani seorang teman/partner bisnisnya dari Jerman. Kebetulan saya pernah bertemu dan pernah diajak jalan-jalan menyusuri sungai Rhein tahun lalu ketika mampir di Köln.

Read the rest of this entry