Tag Archives: keluarga

Tentang keluarga

Standard

Ketika bicara tentang keluarga, saya selalu merasa bahwa saya adalah salah seorang yang paling mengerti tentang arti keluarga karena saya sudah pernah merasakan berada jauh dari keluarga. Merasakan rindu, sedih, dan sepinya berada jauh dari mereka. Merasakan senangnya ketika skype berbunyi dan sebuah window di layar menunjukkan “Papah is calling”. Merasakan gondoknya ketika sebuah SMS masuk dan berkata “sori Sne, nggak jadi skype hari ini, soalnya ternyata pada pergi semua”, tepat ketika saya masuk kembali ke kamar setelah membatalkan janji ketemuan dengan seorang teman.

Tapi ternyata, keluarga tidaklah sesederhana itu.

Kadang saya berpikir bahwa keluarga adalah sesuatu yang akan selalu ada di saat yang lain tidak lagi ada. Seperti sebuah fall-back plan, atau sebuah jaring pengaman yang terbentang di bawah ketika kita sedang melompat dari ketinggian. Ia akan ada, selalu menjadi jaminan tanpa perlu dipikirkan lagi, tanpa perlu diadakan lagi.

Saya juga sering menganggap keluarga sebagai sesuatu yang “selalu”. Selalu ada, selalu hangat, selalu penuh tawa, selalu nyaman. Keluarga adalah sebuah ranah bebas politik – tanpa tedeng aling-aling, tanpa strategi, tanpa perjuangan. Keluarga akan selalu “selalu”.

Tapi ternyata, keluarga tidaklah se”selalu” itu.

Seperti teman, seperti pekerjaan, seperti memasak dan menanam pohon, keluarga juga perlu energi. Perlu untuk terus diberi energi agar ia tetap berjalan, tetap memberi kenyamanan, tetap terasa lezat dan nyaman. Ia bisa layu, bisa jadi gosong, bisa juga pergi jika kita tidak berhati-hati. Ternyata, it takes heart.

Tapi, seperti teman, seperti pekerjaan, seperti memasak dan menanam pohon, setelah dilakukan, menjaga keluarga tidak terlalu sulit. Memang perlu waktu dan komunikasi. Keluarga juga perlu rindu, perlu jarak, perlu ruang. Tapi beri juga ia perhatian, kedekatan, memori, dan tentu saja, cinta. Tidak sesulit itu, kok. Ya, kan?

*) refleksi pasca punya dua keluarga. selamat bulan cinta!

 

Tentang nggak sempet

Standard

Aduuhh.. sori banget, gue kemarin mau nge-SMS loe tapi nggak sempet…

Wah, tadi gue nggak sempet nge-print filenya…

Sering melontarkan kalimat-kalimat seperti itu nggak?

Kalau saya kok ya, sering? Akhir-akhir ini kalimat itu sering terlontar ke ibu saya. Dan jujur, saya mulai merasa berdosa. Rasanya saya jadi mendahulukan banyak hal lain selain ibu saya – dan rasanya itu tidak benar.

Pekerjaan dan teman jadi menjadi prioritas utama, dan keluarga mulai dinomorsekiankan. Ayah dan adik-adik sih tidak terlalu terganggu, tapi berhubung saya anak perempuan satu-satunya dan dekat sekali dengan mamah, beliau yang merasa sangat terganggu dengan berbagai kesibukan saya.

Kalau temen kamu yang minta temenin ke Bandung, kamu rela bangun pagi-pagi. Kalau aku yang minta, susah bener kamu bangunnya…

Demikian ia suka mengeluh. Dan itu memang berdasarkan kejadian nyata.

Saya merasa berdosa. Merasa tidak nyaman. Merasa ingin melakukan sesuatu. Tapi kok susah sekali…

Ada yang punya persoalan yang sama?