Saya selalu merasa kalau saya adalah orang yang sangat terencana. Saya selalu punya agenda dan to-do list, untuk mencatat apa saja yang akan dan harus saya lakukan. Saya suka merencanakan sebuah acara, perjalanan, termasuk juga ketemuan dengan teman – in advance. Kalau bisa paling tidak 3 hari sebelumnya semua sudah jelas.
Mengenai rencana perjalanan, saya termasuk yang agak obsesif. Harus tahu kita akan kemana hari pertama, hari kedua, hari ketiga, dst. Atau paling tidak, sudah ada list tempat-tempat yang akan dikunjungi. Jadi ketika sampai di tempat tujuan hanya tinggal memilih saja yang mana yang paling nyaman itinerarynya.
Lalu, beberapa bulan yang lalu saya berpikir – I want to be more adventurous! Lebih spontan, lebih berani mengambil keputusan, dan lebih “ayo!”. Saya suka iri ketika adik saya bilang dia mau ke Karimun Jawa minggu depan, atau ketika teman saya bilang dia akan pergi ke Anyer besok. Waaah, senangnyaa!!! Aku ingiiin!! – begitu yang ada di benak saya. Tapi I’ve never done anything like that.
Sampai tiga hari yang lalu. Ketika dia mengajak saya untuk pergi ke Bali, menemani dia menemani seorang teman/partner bisnisnya dari Jerman. Kebetulan saya pernah bertemu dan pernah diajak jalan-jalan menyusuri sungai Rhein tahun lalu ketika mampir di Köln.
