Category Archives: journey

US Trip Part 2: JFK – Maryland dan Perjalanan Naik Mobil

Standard

Seperti sebuah ke”pasti”an – “…kalau kita jalan-jalan di Eropa, pake public transport. Tapi kalau di Amerika, sewa mobil aja. It’s a car-oriented country,” kata Ei. Jadilah sepanjang 20 hari perjalanan di Amerika itu, ketika ada segmen perjalanan yang relatif pendek, kita sewa mobil. Dan, demikian juga lah perjalanan dari JFK ke Maryland itu dijalani. With a huge van. Rented through Budget. *yang paling murah soalnya..*

Awalnya, dengan 7 orang – 4 dewasa, 1 anak dan 2 bayi, kita berpikir bahwa berarti kita harus menyewa 7-seater. Karena masing-masing anak dan bayi harus pakai carseat-nya sendiri-sendiri. Tapi, we forgot about other important things: 4 koper gede, 1 carry-on bag, dan 2 stroller. Wakwaauuw! Akhirnya Dodge Caravan yang sebelumnya kita pikir bisa muat, ternyata nggak muat, dan kita terpaksa ganti mobil menjadi Chrysler Town & Country, yang bagasinya lebih guede. Setelah semua barang (dan orang dan bayi-bayi) masuk, we’re ready to go!

Read the rest of this entry

US Trip Part 1: CGK-JFK dan Terbang 24 Jam

Standard

Waktu mulai hamil Triya, salah satu hal besar yang jadi pikiran saya adalah soal traveling. Karena udah hamil, so there goes my chance of traveling… Apalagi kalau nanti sudah ada anak – wah, pasti harus nunggu anaknya agak besar sedikit baru bisa diajak jalan-jalan ya?? Tapi ternyata, where there is will and opportunity (ya iya laahh), there’s a way… Nena, Ei dan Triya went to the US!!! #lebay

Hehe, yah, maaf kalo postingan ini teramat sangat lebay, karena maklum, belum pernah ke Amerika, plus, ini bawa Triya yang kemarin masih 8 bulan. So, there were sooo many stories!

Visa Triya

Persiapan perjalanan dimulai dari pembuatan visa Triya. Sekarang aplikasinya semua harus dilakukan online, lewat website ini. Semua informasinya lengkap – if only you are willing to read thoroughly and carefully. :) Prosesnya kalau sedang tidak banyak yang apply makan waktu sekitar 5-10 hari kerja. Triya apply di bulan September akhir, jadi  jadwal interview bisa dapat dalam 1-2 hari, dan visanya sudah selesai dalam waktu seminggu saja. Dulu waktu saya apply, pas bulan Juni awal, jadi rame banget, dan untuk dapat jadwal interview aja harus nunggu 2 minggu. Well, I guess, ini rejekinya Triya… :)

Satu hal lagi yang worth noting adalah karena Triya masih di bawah 13 tahun, jadi untuk interview visa dia nggak perlu datang sendiri. Cukup orang tua atau wali yang sah aja yang datang untuk interview. Berhubung kebetulan saya dan Ei sudah punya visa, jadi cukup bawa passport kami berdua aja untuk ditunjukin di loket interview, dan akte kelahiran Triya sebagai bukti kalau Triya itu benar anak kami berdua. Hehe.

Persiapan terbang 24 Jam

Setelah visa di-approve, tiket dibeli. Sempet mikir untuk terbang naik Qatar yang murah buanget – sekitar USD8,000 (total ber-7, 4 dewasa, 1 anak, 2 infant – yes, we were a big traveling party!!). Tapi transitnya 2 kali, di Doha dan di Belgia, dan kemungkinan harus apply visa lagi untuk Belgia. Scratch that option. Akhirnya pilihan jatuh ke Cathay yang sedikit lebih mahal, tapi cuma transit 1 kali di Hong Kong dan kita nggak perlu visa lagi.

Untuk persiapan terbang selama 24 jam tersebut, saya sempat nanya-nanya via Twitter ke orang-orang. Akhirnya dapat tips dari 2 orang yang pernah (dan beberapa kali, bahkan!) traveling ke US dengan bayi di bawah 1 tahun. Berikut tips-nya yaa…

  • Don’t stress out. Karena kalau mamanya stress dan nggak tenang, nanti anaknya juga akan stress dan nggak tenang… :)
  • Bayi harus menelan pas take-off, dan descending. Untuk landing, berdasarkan pengalaman, nggak terlalu perlu, karena tekanan udaranya berubah justru pas descending – sekitar 45 menit sampai 15 menit menjelang landing. Triya biasanya cranky pada saat descending, tapi pas landing happy-happy aja. Kalau bayinya masih ASIX, disusuin aja. Kalau sudah bisa makan solid food, bisa makan biskuit atau snack aja.
  • Bawa pampers yang BUANYAAK! Entah kenapa, kalau lagi terbang, Triya jadi sering banget pup! Hehe.. Dalam perjalanan 14 jam, dia pupi 4-5 kali! Mungkin karena perbedaan tekanan udara kali yeee..
  • Bawa pengalih perhatian yang sedang-sedang saja jumlahnya. Misalnya mainan 3 buah, snack 2 kontainer kecil. Berhubung Triya cepet bosen, jadi dia lebih senang main-main dengan benda-benda selain mainannya.
  • Bawa makanan bayi yang cukup dan gampang dibawa-bawa. Misalnya, makanan bayi Heinz atau Gerber. Walaupun sudah order makanan bayi di pesawat, belum tentu dapat, dan kalau pun dapat, belum tentu sesuai dengan umur anak…
  • Bawa tisu kering dan basah yang cukup. Kemarin saya bawa tisu basah yang ukuran besar, dan tisu kering yang kemasan traveling itu – bukan yang kemasan kecil dan tisunya dilipat-lipat, jadi gampang, tinggal langsung tarik aja kalau ada yang perlu dilap.
  • Bawa baju ganti yang cukup. Kemarin saya bawa 2 – 1 untuk ganti di Hong Kong, dan 1 untuk ganti di JFK
  • Berhubung di pesawat suka dingin, jadi kemarin Triya pakai baju 2 lapis. Lapis pertama: onesie plus legging; lapis kedua: baju tidur model jumper tutup kaki gitu. :) it worked very well!

Nah, kira-kira demikian yang bisa di-share untuk persiapan terbang yang luamaaa itu. Setelah itu, it’s D-Day!

Penerbangan 24 jam itu…

….ternyata cukup manageable! Tapi, emang support system itu penting. :) Buat saya, support system terpenting saat itu adalah Ei. Knowing that he’s there with me – helps a lot. Jadi ada yang bisa gantian gendong Triya, bantuin nyuapin, nemenin pas ganti popok ke kamar mandi yang sempit itu, and just for holding your hand when you’re tired. :) Selain Ei, support system kedua adalah kakak ipar saya dan keluarganya yang juga ikut traveling bareng kita (jadi, sebenarnya trip ini adalah business trip Ei dan kakaknya, tapi keluarganya pada ngintil… Hehe). Seeing them sitting next to us, just as tired, dan kadang-kadang anak-anaknya agak cranky – juga helps a lot. Untuk tahu bahwa kita nggak sendirian kok… Dan nantinya kita bisa saling cerita, menghibur, dan ketawa. :)

Selama di perjalanan, Triya sama sekali nggak rewel. Berhubung flight kita jam 00.15, jadi dari jam 9, Triya udah tidur dan baru bangun pas mau boarding. Menjelang take off, Triya nenen, habis itu tidur lagi. Dia bangun setiap 2-3 jam untuk nenen atau makan, sisanya dia main-main. Kadang di atas pangkuan saya atau Ei, kadang kita dudukin aja dia di lantai pesawat, hehe.. She seemed to enjoy it very much!

Untuk masalah makan, emang harus 2 orang. Jadi 1 orang megangin Triya, dan 1 orang lagi nyuapin Triya. Atau, 1 orang megangin Triya, dan 1 orang lagi nyuapin bapak atau ibunya… Hehe.. Susah soalnya kalau harus makan sendiri-sendiri. Atau, ya, gantian makannya dan megangin Triyanya.

Untuk kenyamanan, kalau traveling jarak jauh bawa anak kecil atau bayi, sebaiknya begitu udah booking tiket, langsung telpon airline-nya, minta kursi bassinet. Terlepas dari apakah nanti bassinetnya akan dipakai atau nggak, tapi the extra leg room sangat bermanfaat… :) Berdasarkan pengalaman kita, baby bassinet is good to have… Untuk dipake naruh bayi pas lagi main-main atau mau disuapin. Tapi kalau lagi tidur, lebih baik dipangku aja. Karena kalau ditaruh di baby bassinet, pas lagi ada turbulence dan harus pakai seat belt, bayinya harus diangkat dari baby bassinet, dipangku, dan dipakaiin seat belt juga. Jadi kasihan kalau lagi tidur, jadi kebangun-kebangung… Lebih baik dipangku aja, dan udah langsung dipakaiin seat belt.

Jadi, kesimpulannya, ternyata terbang dengan bayi selama 24 jam itu nggak terlalu menyeramkan kookk.. Jadi kalau mau bawa bayinya jalan-jalan ke Amerika bulan depan, go ahead and enjoy the holiday!!!

Look, mommy, I swim!

Standard

Yippiee!! Akhirnya Triya berenang juga untuk pertama kalinya! Sebenarnya, berenangnya sudah 2 bulan yang lalu, waktu umur Triya kira-kira 3,5 bulan. Walaupun banyak juga bayi-bayi yang mulai berenang lebih cepat dari Triya, paling nggak di kolam renang waktu Triya berenang, Triya lah yang paling kecil. :D

Awalnya kepikiran untuk mengajak Triya berenang sebenarnya karena bak mandi. Karena di bak mandi itu Triya kelihatannya hepi banget! Kakinya mulai nendang-nendang, dan dia jarang nangis kalau dimandikan di bak mandinya. Jadinya Ei dan saya mulai berpikir, waah, Triya seneng berenang yaaa…

Nah, waktu umur Triya baru 2 minggu, mama saya iseng-iseng membelikan Triya baju renang (!!), dari bahan wetsuit pula (!!!). Waktu baru dibelikan, baju renangnya super kegedean (ya iya laah..), tapi alhamdulillah, pas mau dipakai, baju renangnya cuma sedikiiit kegedean.

Percobaan pertama berenang, sukses. Triya hepi banget! Dan, karena airnya cukup hangat, jadinya dia berenang lumayan lama, sekitar 20 menit. Dengan aksi foto-foto yang luar biasa banyak saking bapak dan mamamnya excited Triya bisa langsung menikmati berenang… :D

Strategi yang Ei dan saya siapkan, dan ternyata cukup sukses, adalah:

  • Sebelum berenang Triya harus disusui dulu – supaya kenyang dan nggak cranky
  • Setelah itu, pakai baju renangnya
  • Ketika pertama kali masuk ke air, harus sedikit-sedikit. Pokoknya Triya nggak boleh kaget. Jadi, pertama Triya saya pangku di pinggir kolam, hanya kakinya saja yang masuk air. Setelah itu, air kolam renangnya mulai diciprat-ciprat ke lutut, paha, perut, dan dibasuh ke mukanya. Setelah itu baru Triya mulai masuk ke air, sedikit-sedikit juga.
  • Untuk bayi, setahu saya berenangnya tidak boleh terlalu lama. Cukup 15-20 menit saja. Itu pun juga harus memperhatikan kondisi bayi – kedinginan atau tidak. Begitu tangannya mulai dingin, langsung keluarkan dari air.
  • Setelah itu, Triya langsung dihanduki, dan langsung ganti baju yang kering.
  • Jika memungkinkan, mamamnya langsung ganti baju yang kering juga dan langsung menyusui Triya. Atau, ganti baju kering dan gendong-gendong Triya supaya tetap nyaman
  • Have fun! Pokoknya muka kita juga harus selalu senyum lebar, supaya bayi juga tahu bahwa ini menyenangkan.

Well, untuk para mama dan papa yang mau berenang, selamat bersenang-senang!

Lebaran Kali Ini

Standard

Lebaran kali ini punya banyak cerita. Cerita yang berbeda dengan cerita-cerita Lebaran saya sebelumnya – yang biasanya diwarnai dengan cerita nyekar ke Solo dan menginap di penginapan favorit keluarga saya di Desa Tembi, Bantul.

Cerita lebaran kali ini berbeda karena tahun ini settingnya berbeda. Tahun ini saya sudah menikah, tinggal di Batam (sambil bolak-balik Jakarta), bekerja lepas, dan hanya pulang ke Jakarta sebentar. Tahun ini juga diputuskan oleh ibu saya bahwa saya akan lebaran di Jakarta bersama mertua – sambil jaga rumah karena ART akan pulkam. Lalu, barulah di hari lebaran ketiga (ternyata jadinya hari lebaran kedua, berhubung lebarannya ‘diundur’) saya dan suami menyusul ke Jogja.

Beberapa hari sebelum lebaran pun saya dan Ei pulang ke Jakarta dengan penuh sukacita. Menyambut sahur yang tidak hanya berdua, buka puasa yang tidak hanya berdua, dan tentunya, makanan yang lebih bervariasi daripada sekedar nasi, oseng-oseng sayur, dan rendang kiriman mertua. :)

Sebelum lebaran, dinamika buka puasa dan sahur kami seperti bola ping-pong. Sahur di tempat mertua, buka di tempat orang tua saya, menginap di rumah ortu, kemudian besoknya buka di tempat mertua – demikian seterusnya sampai tanggal 29.

BUKA PUASA!! Alhamdulillaaah… 29 hari puasa berhasil dilalui, ketupat sudah tersaji di meja, jam setengah 6 kami semua sudah duduk manis dengan sepiring ketupat, sayur buncis, sambel goreng ati, semur, opor, dan kerupuk – ngobrol ngalor-ngidul tentang puasa dan lebaran esok hari. Jam 6 kurang seperempat mulai ada joke tentang sidang isbat pemerintah dan kemungkinan besok ternyata masih puasa – hahaha… Tentang tidak jadi takbiran, dan jadinya tarawih lagi – hahaha…

Jam 6, semua mulut sibuk mengunyah ketupat. Jam setengah 7, kekenyangan dan sholat maghrib, jam 7 kurang seperempat - joke sebelumnya menjadi semakin nyata seiring dengan berjalannya sidang isbat. Keluarga Ei terbagi dua opininya – sebagian yakin lebaran akan jatuh besok, tanggal 30; dan sebagian lagi yakin mengikuti pemerintah pada tanggal 31. Ayah mertua kelihatannya cenderung tanggal 31. Suasana mulai sedikit getir. Apalagi suasana hati saya.

Saya sangat yakin bahwa lebaran akan jatuh besok, tanggal 30. Sesuai dengan kalender. Kebetulan sama dengan Muhammadiyah. Sama dengan keluarga saya yang merayakan lebaran di Jogja – pasti semuanya lebaran besok. Kegetiran dan kebingungan tentang lebaran ini rasanya salah – karena sebelumnya tidak pernah begini. Sebelumnya kami selalu yakin tentang kapan akan berlebaran. Dan tahun ini, kapan akan berlebaran saja tidak yakin. Lebaran tahun ini jadi terlalu banyak bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Dan saya mulai merasa tidak nyaman.

Read the rest of this entry

Chengdu Trip Part 1: Jiuzhaiguo

Standard

Jiuzhaiguo – The Fairyland

Jiuzhaiguo is initially the sole reason we decided to take this trip in the first place. My mom, who heard about it from my aunt, decided that before she gets too old to travel, she will go to Jiuzhaiguo. What I knew about Jiuzhaiguo before I left for China was just one word: beautiful. And it seems like it’s a good enough reason to go to any place! But, what I know about Jiuzhaiguo after I left China is two words: breathtakingly amazing.

Literally meaning Valley of Nine Tibetan Villages, Juizhaiguo boasts natural beauty unlike anything I’ve ever seen before. It lies in a mountainous area of Minshan, and it consists of 3 valleys: the left, the right and the middle valley (according to my tour guide, David. :D ). Along the valley, there are numerous multi-level waterfalls and lakes with incredible clarity and colors. Some of the lakes (or ponds, if you will) has 5 colors, each of which clearly separable from the other instead on just mixed into a brown color.

One of the lakes, the Arrow Bamboo Lake, is the place where the movie Hero was shot. If you remember the scene where Jet Li was fighting on top of a very beautiful lake, with mountainous background – that’s it.

Because of its natural beauty that’s almost unwordly, Jiuzhaiguo was also called the Fairyland. It’s multi-colored lakes, the picturesque mountains, the splendid waterfalls, and the difficulty to reach this place really makes Jiuzhaiguo lives up to its name.

Read the rest of this entry

God was surely in a good mood when he created Sichuan…

Standard

Yup. After a rather too-short 8-days tour to Sichuan province, I definitely think that God was really in a good mood when he created the Sichuan province in the great land of China. :)

I went to Sichuan, and went to four different places: Chengdu, Jiuzhaiguo, Emeishan, and Leshan. And stories will come shortly, I owe you all that. But for the mean time… Hope this cute pics suffice!

THE Trip – Telunas Beach Resort

Standard

Kenapa judul postingan ini pakai huruf besar semua awalnya? Karena ini benar-benar, THE ULTIMATE TRIP! *lebay* Walaupun sayangnya trip ini terlalu pendek, dan saya menyalahkan Hanny untuk ini. :D

Jadi, begini ceritanya. Hari Minggu kemarin, Hanny datang ke Batam untuk berlibur sejenak. Tujuan utamanya sebenarnya bukan Batam, melainkan pulau Sugi, sebuah pulau kecil di sebelah tenggara pulau Batam. Di pulau Sugi ini terdapat sebuah resort sederhana bernama Telunas Beach Resort. Menurut Ei yang sudah pernah ke sana, Telunas ini luar biasa cantik, tenang, dan menyenangkan. Demi membujuk Hanny untuk mau main ke Batam, saya lalu mempromosikan Telunas! Dan Hanny ternyata langsung jatuh hati begitu melihat websitenya.

Perjalanan ke Telunas makan waktu kurang lebih 60-90 menit dengan menggunakan kapal dari pelabuhan feri Sekupang. Waktu berangkat, rute kami langsung dari Sekupang ke Telunas; tapi ketika pulang, dari Telunas kami mampir dulu ke Moro, kemudian baru ke Sekupang. Perjalanan laut ini singkat tapi menyenangkan – lautnya cukup tenang dan pemandangannya cantik, melewati pulau-pulau di gugus Kepri.

Telunas Beach Resort terletak di tepi pantai di sebelah tenggara pulau Sugi, dengan 90% bagiannya berada di atas air! Jadi kita tidur di atas permukaan air laut, hehe. Seru yah! Ketika air sedang surut, jarak antara dasar bangunan dengan permukaan air sekitar 4m, sementara ketika sedang pasang hanya sekitar 1,5-2m.

Di Telunas, hampir seluruh bangunannya menggunakan kayu dan bahan alami dari daerah setempat. Mulai dari pondasinya, sampai ke atapnya, dan interiornya. Semuanya eco-friendly! Di sini juga diberlakukan sistem pemisahan sampah, yang kemudian dikirim ke Batam untuk didaur ulang. Listrik tidak berasal dari PLN, karena listrik belum sampai ke pulau Sugi. Jadi, semua peralatan elektronik dioperasikan menggunakan generator diesel. Saat ini pengelola Telunas sedang mencari alternatif energi lain yang bisa digunakan untuk menggantikan generator diesel-nya. Ada yang punya rekomendasi?

Read the rest of this entry

Gulf of Tomini – in between dream and reality

Standard

It was sunny, in the middle of the day, when the ship arrived near the Togian archiplago in the Gulf of Tomini in Sulawesi. The sun was shining brightly, casting its ray upon the vast indigo ocean. The deep blue and the glittery smooth waves were almost blinding. I feel nothing. A good nothing. Like nothing else matters in that moment, except that I was there, on the boat, indulging and experiencing this magnificence.

After 4 hours of sailing, we finally reached our destination in Togian. The destination was… almost nowhere. We could pick which island we wanted to go to, or where exactly we want to jump into the wild ocean to start snorkeling. At some places, instead of the indigo blue of the ocean, there’s a light turquoise with a hint of beige color, and one will immediately feel drawn to it. Just like I felt. The turquoise-colored area were where I wanted to go.

As the boat neared the turquoise, my brother gave me his fins and his snorkel.

I’ll jump first, and you can throw these down as I give you the clue

So he walked up to the front part of the boat, get on the railing, and jumped off the boat, 5 meters above the water surface. In and splashed he went and in 3 seconds his head popped up, smiling. As he gave the clue, I threw the fins, one by one and he put them on, and then the snorkel, and off he swam to the turquoise. My stomach felt a funny feeling. I want to do that, but I am afraid.

After watching an uncle, and another cousin, and another cousin jumped off the boat into the deep indigo, I was finally able to gather my guts. But that was after I put on a life vest, took a goggle with me, and praying frantically inside. Before I jumped off the boat, my dad told me to put on my flip-flops because standing on the coral may hurt a bit. So I did. And I walked up to the railing, chanting bismillahi rohman nirrahim, and jumped.

The 2 seconds before I went into the water were 2 of the scariest moment I’ve ever experienced. My heart felt like it stopped beating. My bowel felt like they didn’t exist. I felt weightless. And then I felt the cool blue ocean, and heard the splash, and somehow felt safe.

As I swam towards my brothers and the rest of the group, I understood why my brother is willing to save and spend his money for snorkeling trips to Karimun Jawa, Belitung, and Komodo island. It was like a dream world down there…

What I saw was exactly like in the movie. Only more real. Colorful fishes swimming around – yellow, green, blue, brown, black, blue with a yellow stripe on top, and rainbow-ish and with fluorescent colors too. There were sea stars with a diameter of 30-50 cm, two with bright blue color and one with spikes and red color. There were sea stars with long, slim, hairy black arms that looks almost like a centipede, which I thought was sea snake and got me thinking, oh, shit, I am going to die by these poisonous sea snake. There were anemones with fishes hiding in between the tentacle. There were colorful and bland and scary looking corals. There were black and black-and-white sea urchins hiding under the corals. There were algae, meters tall. There were small fishes, no bigger than your finger nails, almost transparent color, that you can only see the eyes and the slight shine of their skins as they swim in big groups to left and right and left and right.

They were all like a dream, because it’s right in front of your eyes, but once you want to touch them, you cannot. They were all floating, swimming, in a distance so you cannot grasp their real-ness. Their vivid color seems to beautiful to be true. You wanted to dive deeper and touch the colorful corals, the sticking corals, the swaying anemones, but you’re afraid that they may be poisonous, that you may not be able to dive up again, that it may react in ways that you cannot think it. It’s something strange, something out of this world, something un-perceivable. But also stunning. It’s the embodiment of terrifying beauty.

Whatever I write here, no matter how beautiful or scary the world under the sea is, is underrated. The real “ocean park” is really a park that amazes you, entices you, allures you in a way that parks in Vienna does, and in a way that the Six Flags amusement park does.

To be able to grasp it all, is to go down there and feel the cool indigo ocean caressing your skin like silk, and to feel the corals beneath your feet, and to watch the beautiful creatures playing in front of your very own eyes…

Cerita dari Theme Park Indoor Terbesar di Dunia

Standard

Hah? Apa?

Mungkin pertanyaan itu yang ada di benak teman-teman saat membaca judulnya. Lantas bertanya, Memang apa sih, theme park indoor terbesar di dunia? Ternyata, theme park indoor terbesar di dunia ini ada di Indonesia, tepatnya di kota Makassar. Yap, Trans Studio adalah theme park indoor terbesar di dunia (per tahun 2009). Tidak percaya?

Hari Minggu lalu, saya berkesempatan mampir ke sana, setelah menunaikan tugas dari Pesta Blogger. Berdua dengan Fany, kita meniatkan diri bangun (agak) pagi, supaya bisa puas bermain di sana sebelum kami berdua harus terbang lagi sore harinya. Kami meluncur dari hotel jam 10.20, tiba di lokasi jam 10.30, bermain hingga jam 14.30. Bagaimana ceritanya? Silakan simak di bawah ya..

ps: posting ini sarat gambar, dan ada beberapa foto saya sendiri.. *kelihatannya ini posting pertama dengan foto diri sendiri… :D *

Trans Studio terletak di komplek Trans Square, menempel langsung dengan Trans Studio Mall. Saat kami datang, loket di bagian luar sedang direnovasi, sehingga kami membeli tiket lewat loket yang terletak di dalam mall. Mall-nya sendiri besar dan mewah, dengan toko-toko merek ternama yang banyak dijumpai di Jakarta. Yang dominan terlihat adalah Coffee Bean dan Baskin Robbins, yang dimiliki oleh Chairul Tanjung – si empunya Bank Mega dan salah satu pendana Trans Studio.

Read the rest of this entry

Semarang, blogger, dan road trip

Standard

Semarang, blogger, dan road trip ternyata adalah perpaduan yang menyenangkan! Ketiganya juga adalah pengalaman kali pertama saya – pertama kali ke Semarang, pertama kali bertemu muka dengan banyak blogger / onliner, dan pertama kali road trip dengan rombongan penghuni dunia maya. Kalau harus diminta menggambarkannya dalam 3 kata: seru, capek, dan deg-degan!

Perjalanan saya ke Semarang ini sebenarnya dalam rangka bekerja, untuk rangkaian acara Pesta Blogger+ 2010 bersama XL Net Rally. Perjalanan ini berbentuk road trip dari 7 kota menuju Semarang, yaitu dari Lampung, Jakarta, Bandung, Yogya, Solo-Sragen, Malang, dan Surabaya. Acara puncak XL Net Rally ini diadakan di Semarang, tanggal 7 Agustus, sehingga perjalanan dari masing-masing kota tersebut dimulai tanggal 5 dan 6 Agustus 2010. Kebetulan saya berangkat dari Jakarta ke Jogja dengan pesawat, kemudian ikutan road trip-nya dari Jogja-Solo-Semarang.

Di Jogja, saya kenalan dengan mbak @memethmeong dari CahAndong, @rasarab, @bocahmiring, @si_enthon9 dari JogTUG. Di Solo kenalan dengan perwakilan dari Fortimas, mas Munif dan Belly. Dari Solo, kami berangkat menuju Semarang dengan mobil XL berstiker “Solo 2″, “Yogya 2″, dan mobil tambahan tanpa stiker.

Sepanjang perjalanan ke Semarang saya semobil dengan mbak Memed, mas Adin dari XL dan supir setiaku, mas Wahyu. Iringannya lagu campursari, yang ternyata mbak Memed hapal semua judulnya… Di balik wajah manisnya itu ternyata mbak Memed rodho ndeso… Sebagian dari perjalanan ini saya ketiduran, karena agak letih… Walaupun tentunya diselingi dengan cemal-cemil strobelli bekalnya mbak Memed… :D

Di luar dugaan, perjalanan ke Semarang memakan waktu cukup lama, sehingga kita baru sampai di Semarang jam 17.15. Sudah tidak sempat lagi wisata kuliner sebelum waktu makan malam… :( Jadinya kita istirahat di hotel dan sebagian minum-minum welcome drink dari hotel sampai tiba waktunya makan malam.

Nah, makan malam ini tempatnya enak, namanya Pondok Laut. Letaknya di pinggir pantai Semarang, terbuka, dengan suasana yang nyaman dan cosy. Makanannya juga kayaknya sedaaapp…. (Tapi, karena ada kendala teknis, saya jadi terpaksa melewatkan makan malam ini… Mungkin ada yang bisa cerita soal makan-makan di sini?). Karena nggak sempat makan malam di Pondok Laut, menu makan malam saya adalah mie Jowo rebus!

Read the rest of this entry