Category Archives: bebeb

Cerita Sleep Training-nya Triya

Standard

Triya sekarang 10 bulan, and we just made a breakthrough! Okey, mungkin nggak segitunya sih, tapi yang jelas perkembangan baru ini membuat hati saya dan Ei senang!

Jadi, Triya sekarang bisa tidur. Maksudnya bisa tidur adalah, bisa tidur sendiri, tanpa harus dinenenin  atau digendong-gendong atau digoyang-goyang sampai nyenyak, baru kemudian bisa kita taruh di tempat tidur. Sekarang Triya udah bisa soothe herselft to sleep! Jadi tinggal ditaruh, terus dia akan bolak-balik sambil mengeluarkan suara-suara lucu (biasanya yang keluar adalah suara “hhheeehhhhhhhhh” atau “aahhhhhhhh”), terus nanti lama-lama merem sendiri dan tidur sendiri! Hehe. Rahasianya? Cry-it-out method.

Memang sih, metode sleep training yang satu ini agak kontroversial, karena basically melibatkan kita sebagai orang tua untuk ngebiarin si anak nangis. Some see it as evil, some see it as effective. Buat saya dan Ei, it was a necessary process. Diawali dengan kita mulai berpikir bahwa Triya harusnya udah bisa tidur di kasurnya sendiri – bukan tidur di tempat tidur bareng kita lagi. Karena, sooner or later kan dia harus tidur sendiri juga, so might as well start early. Ternyata, we were a tad bit too late. Teori mengatakan bahwa sebenernya sejak umur 4-6 bulan bayi udah bisa diajarin untuk tidur sendiri. Jadi, kita telat sekitar 4 bulan. Tapi, telat sendiri juga relatif kok. Buat saya dan Ei, sekarang adalah waktu yang cukup tepat – karena Triya udah mulai ngerti. Dia tahu kalau siang saya dan Ei mencurahkan kasih-sayang ke dia (ciyeeeh), jadi kalau malam-malam kita biarin dia nangis dia nggak akan ngerasa di-abandon. :D

Anyways, jadi setelah saya dan Ei memutuskan untuk mulai sleep training Triya, kita mulai browsing selengkap-lengkapnya. Informasi tentang tips praktis seputar CIO atau cry-it-out method kita dapat dari babycenter. Menurut kita, informasinya cukup komprehensif dan ada langkah-langkah untuk mulai dari expertnya. Setelah itu, the game began.

Malam pertama, Triya dinenenin sampai kenyang dan ngantuk, setelah itu langsung ditaruh di boxnya sendiri. Dia ngamuk. Nangis. Kita tinggal dia di dalam kamar, dan kita keluar. Setelah 3 menit, kita masuk, tepuk-tepuk dia dan memposisikan Triya di posisi tidur (karena Triya nangis sambil berdiri gitu), terus kita tinggal lagi. Setelah 5 menit, kita masuk lagi, do the same routine, keluar lagi. Setelah 10 menit masuk lagi, dan terus begitu sampai… 2 jam! Akhirnya Triya kecapekan dan tidur… Hehe…

Malam kedua, Triya nangis-nangis selama 1,5 jam. Malam ketiga, Triya nangis-nangis kecil selama setengah jam. Malam keempat, Triya udah nggak nangis, cuma uh-ah-uh-ah aja selama 15 menit. Malam kelima, 5 minutes and she was down!

Triya bobok sopan

Read the rest of this entry

US Trip Part 1: CGK-JFK dan Terbang 24 Jam

Standard

Waktu mulai hamil Triya, salah satu hal besar yang jadi pikiran saya adalah soal traveling. Karena udah hamil, so there goes my chance of traveling… Apalagi kalau nanti sudah ada anak – wah, pasti harus nunggu anaknya agak besar sedikit baru bisa diajak jalan-jalan ya?? Tapi ternyata, where there is will and opportunity (ya iya laahh), there’s a way… Nena, Ei dan Triya went to the US!!! #lebay

Hehe, yah, maaf kalo postingan ini teramat sangat lebay, karena maklum, belum pernah ke Amerika, plus, ini bawa Triya yang kemarin masih 8 bulan. So, there were sooo many stories!

Visa Triya

Persiapan perjalanan dimulai dari pembuatan visa Triya. Sekarang aplikasinya semua harus dilakukan online, lewat website ini. Semua informasinya lengkap – if only you are willing to read thoroughly and carefully. :) Prosesnya kalau sedang tidak banyak yang apply makan waktu sekitar 5-10 hari kerja. Triya apply di bulan September akhir, jadi  jadwal interview bisa dapat dalam 1-2 hari, dan visanya sudah selesai dalam waktu seminggu saja. Dulu waktu saya apply, pas bulan Juni awal, jadi rame banget, dan untuk dapat jadwal interview aja harus nunggu 2 minggu. Well, I guess, ini rejekinya Triya… :)

Satu hal lagi yang worth noting adalah karena Triya masih di bawah 13 tahun, jadi untuk interview visa dia nggak perlu datang sendiri. Cukup orang tua atau wali yang sah aja yang datang untuk interview. Berhubung kebetulan saya dan Ei sudah punya visa, jadi cukup bawa passport kami berdua aja untuk ditunjukin di loket interview, dan akte kelahiran Triya sebagai bukti kalau Triya itu benar anak kami berdua. Hehe.

Persiapan terbang 24 Jam

Setelah visa di-approve, tiket dibeli. Sempet mikir untuk terbang naik Qatar yang murah buanget – sekitar USD8,000 (total ber-7, 4 dewasa, 1 anak, 2 infant – yes, we were a big traveling party!!). Tapi transitnya 2 kali, di Doha dan di Belgia, dan kemungkinan harus apply visa lagi untuk Belgia. Scratch that option. Akhirnya pilihan jatuh ke Cathay yang sedikit lebih mahal, tapi cuma transit 1 kali di Hong Kong dan kita nggak perlu visa lagi.

Untuk persiapan terbang selama 24 jam tersebut, saya sempat nanya-nanya via Twitter ke orang-orang. Akhirnya dapat tips dari 2 orang yang pernah (dan beberapa kali, bahkan!) traveling ke US dengan bayi di bawah 1 tahun. Berikut tips-nya yaa…

  • Don’t stress out. Karena kalau mamanya stress dan nggak tenang, nanti anaknya juga akan stress dan nggak tenang… :)
  • Bayi harus menelan pas take-off, dan descending. Untuk landing, berdasarkan pengalaman, nggak terlalu perlu, karena tekanan udaranya berubah justru pas descending – sekitar 45 menit sampai 15 menit menjelang landing. Triya biasanya cranky pada saat descending, tapi pas landing happy-happy aja. Kalau bayinya masih ASIX, disusuin aja. Kalau sudah bisa makan solid food, bisa makan biskuit atau snack aja.
  • Bawa pampers yang BUANYAAK! Entah kenapa, kalau lagi terbang, Triya jadi sering banget pup! Hehe.. Dalam perjalanan 14 jam, dia pupi 4-5 kali! Mungkin karena perbedaan tekanan udara kali yeee..
  • Bawa pengalih perhatian yang sedang-sedang saja jumlahnya. Misalnya mainan 3 buah, snack 2 kontainer kecil. Berhubung Triya cepet bosen, jadi dia lebih senang main-main dengan benda-benda selain mainannya.
  • Bawa makanan bayi yang cukup dan gampang dibawa-bawa. Misalnya, makanan bayi Heinz atau Gerber. Walaupun sudah order makanan bayi di pesawat, belum tentu dapat, dan kalau pun dapat, belum tentu sesuai dengan umur anak…
  • Bawa tisu kering dan basah yang cukup. Kemarin saya bawa tisu basah yang ukuran besar, dan tisu kering yang kemasan traveling itu – bukan yang kemasan kecil dan tisunya dilipat-lipat, jadi gampang, tinggal langsung tarik aja kalau ada yang perlu dilap.
  • Bawa baju ganti yang cukup. Kemarin saya bawa 2 – 1 untuk ganti di Hong Kong, dan 1 untuk ganti di JFK
  • Berhubung di pesawat suka dingin, jadi kemarin Triya pakai baju 2 lapis. Lapis pertama: onesie plus legging; lapis kedua: baju tidur model jumper tutup kaki gitu. :) it worked very well!

Nah, kira-kira demikian yang bisa di-share untuk persiapan terbang yang luamaaa itu. Setelah itu, it’s D-Day!

Penerbangan 24 jam itu…

….ternyata cukup manageable! Tapi, emang support system itu penting. :) Buat saya, support system terpenting saat itu adalah Ei. Knowing that he’s there with me – helps a lot. Jadi ada yang bisa gantian gendong Triya, bantuin nyuapin, nemenin pas ganti popok ke kamar mandi yang sempit itu, and just for holding your hand when you’re tired. :) Selain Ei, support system kedua adalah kakak ipar saya dan keluarganya yang juga ikut traveling bareng kita (jadi, sebenarnya trip ini adalah business trip Ei dan kakaknya, tapi keluarganya pada ngintil… Hehe). Seeing them sitting next to us, just as tired, dan kadang-kadang anak-anaknya agak cranky – juga helps a lot. Untuk tahu bahwa kita nggak sendirian kok… Dan nantinya kita bisa saling cerita, menghibur, dan ketawa. :)

Selama di perjalanan, Triya sama sekali nggak rewel. Berhubung flight kita jam 00.15, jadi dari jam 9, Triya udah tidur dan baru bangun pas mau boarding. Menjelang take off, Triya nenen, habis itu tidur lagi. Dia bangun setiap 2-3 jam untuk nenen atau makan, sisanya dia main-main. Kadang di atas pangkuan saya atau Ei, kadang kita dudukin aja dia di lantai pesawat, hehe.. She seemed to enjoy it very much!

Untuk masalah makan, emang harus 2 orang. Jadi 1 orang megangin Triya, dan 1 orang lagi nyuapin Triya. Atau, 1 orang megangin Triya, dan 1 orang lagi nyuapin bapak atau ibunya… Hehe.. Susah soalnya kalau harus makan sendiri-sendiri. Atau, ya, gantian makannya dan megangin Triyanya.

Untuk kenyamanan, kalau traveling jarak jauh bawa anak kecil atau bayi, sebaiknya begitu udah booking tiket, langsung telpon airline-nya, minta kursi bassinet. Terlepas dari apakah nanti bassinetnya akan dipakai atau nggak, tapi the extra leg room sangat bermanfaat… :) Berdasarkan pengalaman kita, baby bassinet is good to have… Untuk dipake naruh bayi pas lagi main-main atau mau disuapin. Tapi kalau lagi tidur, lebih baik dipangku aja. Karena kalau ditaruh di baby bassinet, pas lagi ada turbulence dan harus pakai seat belt, bayinya harus diangkat dari baby bassinet, dipangku, dan dipakaiin seat belt juga. Jadi kasihan kalau lagi tidur, jadi kebangun-kebangung… Lebih baik dipangku aja, dan udah langsung dipakaiin seat belt.

Jadi, kesimpulannya, ternyata terbang dengan bayi selama 24 jam itu nggak terlalu menyeramkan kookk.. Jadi kalau mau bawa bayinya jalan-jalan ke Amerika bulan depan, go ahead and enjoy the holiday!!!

Triya atiiiiittt!!!

Standard

As the saying goes, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga – demikian juga halnya dengan anakku tercintah. Sesehat-sehat Triya, akhirnya sakit juga. :) Memang sih, bukan topik yang super-duper menyenangkan ataupun istimewa, but I think it’s worth sharing. :D

Berawal dari imunisasi campak Triya sekitar 10 hari yang lalu. Karena vaksin campak itu adalah virus campak yang dilemahkan, jadi ibu dokter nanya apakah Triya sakit – misalnya flu atau batuk. Pada saat itu Triya sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda sakit, dan nggak habis sakit, jadi dengan yakin saya dan Ei menjawab, “Nggak dok, sehat, alhamdulillah…”. Ibu dokter pun tersenyum lebar, dan njuussss, in goes the vaccine.

Imunisasi hari Selasa – hari Rabu Triya masih cengar-cengir. Kita berdua udah happy-happy, karena sebelumnya sudah diperingati sama ibu dokter kalau setelah imunisasi campak ada kemungkinan demam atau diare atau muntah – dan setelah sehari ternyata Triya baik-baik saja.

Then comes hari Kamis. Triya mulai diare. Antara jam 3 sore sampai jam 6 sore, 3 kali diare – very runny stools juga. Selera makannya langsung menurun. Sekitar jam 7, setelah nenen dan cemil-cemil biskuit (that was the only thing she wanted to eat), mendadak muntah. Jam 8, tiba-tiba badannya mulai anget. Suhunya saat itu 39.4. Langsung dikasih Tempra, dan diminumin Pharolit yang memang sudah diresepin sama ibu dokter. Habis itu tidur.

Lewat tengah malam Triya diare lagi. Suhu badan belum menurun juga. Hari Jumat pagi suhunya 39.8, dan kita kasih Tempra lagi. Akhirnya menjelang siang suhunya turun, dan sore sudah 37.5. Pada saat itu kita lega banget karena demamnya sudah turun, walaupun diare masih terus berlanjut dengan frekuensi yang berkurang.

Read the rest of this entry

ASI: Cukup apa nggak??

Standard

Walaupun badannya kecil, tapi untuk ngasih makan Triya ternyata penuh lika-liku. Saya yakin semua ibu pasti pernah mengalami ini, dan mungkin baca tulisan ini sambil senyam-senyum sendiri sambil mengkaitkan dengan pengalamannya sendiri.. :) Apa saja sih lika-likunya? Dan kenapa juga saya memutuskan untuk sharing di sini?

Pertanyaan klise: ASI – Cukup atau nggak?

Dua puluhan tahun yang lalu, jaman ketika saya baru dilahirkan, dan mungkin sebagian besar teman-teman yang membaca ini baru dilahirkan, “dunia ibu-ibu” nggak seperti sekarang. Arus yang kencang pada saat itu adalah susu formula – ada yang sejak lahir, ada yang beberapa bulan setelah lahir. Saat itu, bayi mulai dikasih makan pisang di umur 4 bulan – itulah norma yang umum berlaku. ASI memang diberikan, tapi – meminjam kata kakak ipar saya – dikasihnya yaa selow-selow aja, alias nggak ngoyo seperti kebanyakan ibu-ibu generasi Y seperti saya sekarang ini.

Sekarang, tren-nya adalah ASI eksklusif selama 6 bulan pertama – seperti rekomendasi WHO. Ini hal yang sangat baru dan terdengar cukup aneh – terutama untuk ibu saya yang terakhir kali update soal ASI-nya tahun 1987. Emangnya ASI aja cukup, Nut? Pertanyaan ini bisa terlontar seminggu 4 kali… Dan, jujur aja, sangat bikin ngeper karena Triya memang badannya nggak super besar…

Tentang ASI eksklusif ini memang penuh dengan diskusi, dan diskusinya dipenuhi dengan kegalauan. Ada ibu-ibu yang (alhamdulillah banget) bisa ngasih ASI eksklusif selama 6 bulan pertama – yang anaknya dibilang lulus dan mendapatkan ijasah S1 ASI; ada yang berhasil ngasih ASI sampai 1 tahun pertama – S2 ASI; dan ada juga yang berhasil sampai 2 tahun penuh – S3 ASI. Keren yaa?? Sayangnya, nggak semua ibu bisa begitu. Dan kadang, ini bukan karena pilihan mereka, tapi karena keterpaksaan mereka.

Anyways, kembali lagi ke Triya, mulai bulan ketiga, ibu saya mulai khawatir tentang cukup/tidaknya ASI saya karena menurutnya Triya semakin rewel. Tidurnya juga pendek-pendek. Dan menurut mamah, penjelasannya adalah: ASI saya nggak cukup. Cukup mah, insyaallah cukup… ASI kan ngikutin kebutuhan bayi, jadi insyaallah cukup…. - I find myself saying that all the time. Baik ke mamah, ataupun ke diri saya sendiri. Pasti cukup. Insyaallah cukup. Dan mamah masih keukeuh sama pendiriannya, saya pada pendirian saya. Adu mulut? Sering banget. Berantem? Yah, beberapa kali lah…

Read the rest of this entry

Look, mommy, I swim!

Standard

Yippiee!! Akhirnya Triya berenang juga untuk pertama kalinya! Sebenarnya, berenangnya sudah 2 bulan yang lalu, waktu umur Triya kira-kira 3,5 bulan. Walaupun banyak juga bayi-bayi yang mulai berenang lebih cepat dari Triya, paling nggak di kolam renang waktu Triya berenang, Triya lah yang paling kecil. :D

Awalnya kepikiran untuk mengajak Triya berenang sebenarnya karena bak mandi. Karena di bak mandi itu Triya kelihatannya hepi banget! Kakinya mulai nendang-nendang, dan dia jarang nangis kalau dimandikan di bak mandinya. Jadinya Ei dan saya mulai berpikir, waah, Triya seneng berenang yaaa…

Nah, waktu umur Triya baru 2 minggu, mama saya iseng-iseng membelikan Triya baju renang (!!), dari bahan wetsuit pula (!!!). Waktu baru dibelikan, baju renangnya super kegedean (ya iya laah..), tapi alhamdulillah, pas mau dipakai, baju renangnya cuma sedikiiit kegedean.

Percobaan pertama berenang, sukses. Triya hepi banget! Dan, karena airnya cukup hangat, jadinya dia berenang lumayan lama, sekitar 20 menit. Dengan aksi foto-foto yang luar biasa banyak saking bapak dan mamamnya excited Triya bisa langsung menikmati berenang… :D

Strategi yang Ei dan saya siapkan, dan ternyata cukup sukses, adalah:

  • Sebelum berenang Triya harus disusui dulu – supaya kenyang dan nggak cranky
  • Setelah itu, pakai baju renangnya
  • Ketika pertama kali masuk ke air, harus sedikit-sedikit. Pokoknya Triya nggak boleh kaget. Jadi, pertama Triya saya pangku di pinggir kolam, hanya kakinya saja yang masuk air. Setelah itu, air kolam renangnya mulai diciprat-ciprat ke lutut, paha, perut, dan dibasuh ke mukanya. Setelah itu baru Triya mulai masuk ke air, sedikit-sedikit juga.
  • Untuk bayi, setahu saya berenangnya tidak boleh terlalu lama. Cukup 15-20 menit saja. Itu pun juga harus memperhatikan kondisi bayi – kedinginan atau tidak. Begitu tangannya mulai dingin, langsung keluarkan dari air.
  • Setelah itu, Triya langsung dihanduki, dan langsung ganti baju yang kering.
  • Jika memungkinkan, mamamnya langsung ganti baju yang kering juga dan langsung menyusui Triya. Atau, ganti baju kering dan gendong-gendong Triya supaya tetap nyaman
  • Have fun! Pokoknya muka kita juga harus selalu senyum lebar, supaya bayi juga tahu bahwa ini menyenangkan.

Well, untuk para mama dan papa yang mau berenang, selamat bersenang-senang!

24 Januari 2012 – the day my life starts anew

Standard

Triya lahir tanggal 24 Januari 2012 jam 02.28 dini hari, di KMC. Berat badannya 2530gr, dan panjangnya 46cm. Hari itu adalah hari pertama di tahun Naga – yang katanya bawa hoki, amiiin… Sekarang Triya sehat, alhamdulillah. Tapi kelahiran Triya tidak semulus yang diharapkan. Sejak tanggal 22 Januari pagi ternyata ketuban saya sudah pecah – without me realizing it. Baru ketahuan kalau ketubannya sudah tua pada saat Triya lahir dan ternyata air ketuban saya sudah berwarna hijau dan sudah kental… Akibatnya, Triya tidak langsung menangis, dan harus disedot dulu paru-parunya untuk mengeluarkan sisa air ketuban yang mungkin tertelan.

Setelah paru-parunya bersih, Triya menangis kencang, dan langsung dibawa ke ruang perinatal untuk observasi nafasnya. IMD (Inisiasi Menyusui Dini) jadi terpaksa tidak dilakukan, dan setelah selesai saya pun dikirim ke kamar untuk istirahat.

Sekitar jam 10, Ei dan saya dipanggil dan diberi tahu bahwa kondisi Triya masih belum prima. Nafasnya sudah normal, tetapi masih hipotermia sehingga harus diletakkan di dalam inkubator dulu. Sore harinya, suhu Triya sudah stabil, tapi Triya kuning dan kadar bilirubinnya mencapai 13,5 (normalnya di hari pertama hanya 5, dan biasanya baru mulai kuning di hari ketiga). Triya pun harus menjalani terapi sinar dan disuntik antibiotik 2x sehari. Rooming in was definitely not an option.

Dokter yang menangani Triya waktu itu menyatakan dia merasa kurang tepat untuk melanjutkan perawatan Triya dan mengusulkan agar Triya dialihrawatkan ke dokter lain yang spesialisasinya bayi baru lahir / perinatolog. Bikin drop? Jelas. Tapi keyakinan harus tetap ada dooong.. :D Jadilah Triya alih rawat ke dokter Anita – dan Ei dan saya sepakat bahwa itu adalah salah satu keputusan terbaik yang dibuatkan untuk kita bertiga. Dokter Anita orangnya sangat lugas, tapi hangat. Penjelasannya komprehensif, dan bicara dengan kita tanpa ada nada yang merendahkan sama sekali. Orangnya juga positif, banyak senyum, dan banyak ngobrol. Bottom line, kami berdua puas banget sama dokter Anita dan semua keputusan yang direkomendasikan ke kita berdua sehubungan dengan Triya.

Read the rest of this entry

Triya, 2 bulan 13 hari

Standard

Hari ini Neitriya Zafiry Aulia – Triya – sudah berusia 2 bulan 13 hari. Dan akhirnya mamamnya Triya (yes, panggilan Triya untuk ibunya adalah mamam. Don’t ask me why. :D ) mulai lagi mengetik dengan dua tangan, di laptop, untuk meng-update blog ini.

Awalnya saya berpikir bahwa saya tidak akan tahan sampai 2 bulan tidak menyentuh laptop. Tapi ternyata hal itu berlangsung cukup mudah. Mengurus Triya, main dengan Triya, tidur siang, leyeh-leyeh, dan online dari handphone saja ternyata cukup. Dan ternyata cukup menyenangkan. Setelah bertahun-tahun (ciyeee, kesannya…) banyak bekerja di depan komputer, ternyata tidak bekerja dengan komputer selama beberapa saat rasanya melegakan. :)

Pada minggu-minggu pertama, pastinya lumrah sekali kalau saya tidak kepingin ketemu laptop sama sekali. Semua waktu dan perhatian rasanya hanya untuk Triya saja – mandiin, nyusuin, boboin, main-main,nyusuin lagi, boboin lagi, main-main lagi, dst. Saya banyak tidur siang, karena Triya masih sering bangun jadi setiap ada kesempatan tidur pasti saya langsung tidur! HP jarang tersentuh, apalagi laptop. Lucu juga sih, apalagi saya pikir saya akan sering update status di FB atau Twitter sambil menunggu Triya tidur. Ternyata that didn’t even cross my mind.

Minggu-minggu berikutnya berjalan lebih “mudah”. Ei dan saya mulai menikmati jadi orang tua, dan mulai memahami Triya sedikit demi sedikit. Oh, dia lapar. Oh, kayaknya dia mau pupi. Oh, belum gelegek’an. Semuanya bukan saya dapatkan dari menonton video Dunstan’s baby language atau khatam baca buku What to Expect The First Year. Baca buku dan cari-cari informasi memang membantu, tapi setiap anak berbeda dan setiap orang tua juga berbeda. Jadi untuk saya dan Ei, cara kami memahami Triya adalah melalui proses trial and error.

Kalau Triya menangis, coba disusuin. Kalau nggak mau, mungkin perutnya nggak enak – jadi coba digelegek’in, atau ditaruh dalam posisi tengkurap. Kalau nggak juga, mungkin dia ngantuk. Kalau nggak juga, mungkin dia hanya ingin dipeluk atau digendong-gendong. :) Proses trial and error ini kadang membingungkan, tapi overall menyenangkan.

Masuk bulan ketiga ini, Triya makin lucu (ya iya laaahh..). Kelihatannya mulai merespon stimulasi dari luar. Dengar suara, lihat benda goyang-goyang, senyum, nangis kalau ditinggal sendirian. Rasanya jadi makin sayang – dan mulai terasa bahwa all those pain and tears and confusion are all worth it. No wonder people keep on making babies… :D

Cerita tentang kelahiran Triya di postingan berikutnya yaa… 

Senam Hamil di RS Puri Indah

Standard

Update dengan foto – 8 April 2012

Sebagaimana saya singgung di postingan lalu, saya baru mulai senam hamil di minggu ke-36. :D Harusnya katanya mulai minggu ke-30 ke atas sudah bisa ikutan senam hamil, tapi beberapa orang mengusulkan supaya ikutnya agak-agak belakangan saja, supaya nggak lupa nanti malah pas lagi bersalin.. Jadilah saya ikut di minggu ke-36.

Saya ikut senam hamil di RS Puri Indah, grup-nya RS Pondok Indah. Sebenarnya saya nggak periksa di RS tersebut, tapi berhubung jadwalnya seminggu 2 kali dan tidak tertutup khusus untuk pasien di sana dan lokasinya dekat dari rumah, jadi saya memutuskan untuk ikutan senam hamil di sana. (Daripada harus ke KMC yang jaraknya 1 jam – kalau nggak macet – dari rumah, dan hanya ada hari Sabtu pagi, dan harus daftar langsung di lokasi jam 7 pagi padahal kelasnya baru mulai jam 9… -_-” Um, thanks but no thanks. :D )

Walaupun saya datang tanpa pengharapan macam-macam – karena RS-nya relatif baru dan nggak banyak disebut di forum-forum bumil, ternyata kelas senam hamil di RS Puri Indah ini menyenangkan! Sarananya enak, nyaman, dan bidan yang mengajar juga cukup berpengalaman dengan suara yang enak didengar. Oiya, plus dapat minum, jus, dan kue-kue kecil. :D Harganya juga cukup murah, hanya Rp. 40.000 saja!

Biasanya kelas diawali dengan senam, dan kita diajari berbagai macam gerakan untuk meringankan rasa pegal-pegal di berbagai bagian tubuh yang umum dialami oleh para bumil. Gerakannya banyak fokus di kaki (untuk mengurangi kram dan bengkak), dan pinggang (untuk mengurangi sakit dan pegal). Setelah itu latihan pernapasan perut, pernapasan diafragma (atau iga-iga), dan pernapasan perut. Selain itu latihan juga pernapasan lanjutan – yang pendek-pendek dan berguna untuk rileks dan mengalihkan perhatian dari rasa ingin mengejan ketika kontraksi, tapi pembukaan belum lengkap.

Setelah itu untuk para bumil yang kandungannya berusia di atas 37 minggu diajarkan untuk mengejan yang benar. Ini bagian favorit, karena saya nggak bisa ngejan (!!). Jadi, rupanya yang seharusnya didorong dan dikuatkan itu adalah otot perut (seharusnya seperti ngeden kalau mau pup.. :D ), tapi yang saya dorong adalah otot leher… Alhasil muka merah dan panas rasanya… Sementara kata susternya, kalau ini kondisi sesungguhnya, “…dedek bayinya nggak keluar-keluar, bu, kepalanya….” -_-” Hosh! Ternyata ngeden aja butuh latihan… Hehehe…

Nah, di RS Puri Indah ini ada 2 jadwal kelas senam hamil, yaitu hari Rabu dan Sabtu, jam 9-11 pagi. Pendaftaran bisa melalui telpon, dan terbuka untuk umum, jadi tidak harus jadi pasien di sana. Walaupun ketika datang pertama kali tetap harus mengisi registrasi, dan akhirnya dibuatkan kartu pasien sih.. Tapi gratis, dan prosedurnya pun mudah.

Untuk kelas hari Rabu, ruangannya di klinik Obgyn lantai 7, karena pesertanya biasanya lebih sedikit. Tersedia 9 matras, masing-masing dengan bantal dan seprei cantik dan bersih warna pink. :) Kalau hari Sabtu, ruangannya di ruang konferensi lantai 5 – ruang Kenanga, karena pesertanya lebih banyak. Tersedia sekitar 15-20 matras untuk hari Sabtu.

 

Waktu saya pertama kali ikut hari Sabtu, pesertanya tidak terlalu banyak, hanya 11 orang. Tapi teman saya minggu lalu ternyata tidak kebagian tempat di hari Sabtu lalu, jadi usul saya, daftarlah sehari sebelumnya! Pendaftarannya di poli Obgyn, sebelum jam 7 malam kalau nggak salah.

Buat saya pribadi, kelas senam hamil di sini menyenangkan dan terjangkau dan memuaskan. Untuk bumil-bumil lain yang tinggal di sekitar Jakarta Barat dan tertarik untuk coba di RS Puri Indah, it’s recommended! :)

RS Puri Indah | (021) 2569 5222 – umum, (021) 2569 5200 (pendaftaran poli)

ps: foto menyusul yaa.. tadi lupaa… :P

The Little Things She Need…

Standard
The Little Things She Need…

Si Bebeb ini alhamdulillah, sejauh ini rejekinya bagus… Mudah-mudahan ke depannya bagus terus ya Beb… :)

Jadi, dari pihak keluarga Ei, Bebeb adalah (calon) cucu ke-6. Dan ke-5 orang kakaknya Bebeb ini perempuan semua… (dan hasil USG 3 kali menunjukkan kalau Bebeb juga perempuan…) Jadi, bahkan sebelum Bebeb 7 bulan di kandungan pun udah ada wacana barang-barang apa saja yang nggak perlu dibeli khusus untuk Bebeb karena bisa pakai barang lungsuran dari kakak-kakaknya itu…

Tapi, dari pihak keluarga ijke, Bebeb adalah (calon) cucu pertama! Jadi, semua orang excited menyambut Bebeb dan bela-beli barang-barang untuk Bebeb. Terutama neneknya dan om-nya.. :) Jadi, Bebeb gets the best of both world! Dapet barang-barang lungsuran, dan juga barang-barang lain yang masih fresh!

Yang bebeb dapat lungsuran adalah… (alhamdulillaah, thanks to my big sis…) stroller, car seat, baby carrier, baby wrap, steamer, breast pump, playpen (untuk di rumah Batam), baby crib, baju-baju cantik buat jalan-jalan kalau Bebeb udah agak besar, selimut-selimut fleece & rajut cantik-cantik, serta nggak ketinggalan gurita dan popok kain!

Dan yang Bebeb dibeliin baru oleh neneknya dan om-nya dan bapak dan mak-nya adalah… playpen (untuk di Jakarta), rocker (sengaja dibeliin yang bisa dari newborn-toddler – thanks to my little brother…), baju-baju yang tetep aja seabrek walaupun udah dapet lungsuran seabrek… :D

So, here they are… the little things she need…

A Note to Bebeb – on her 37th week

Standard

Dear Bebeb,

When I first heard the song “I knew I loved you before I met you” from Savage Garden, I thought, “This has got to be the biggest b**lsh*t anyone could ever say to someone…”.  I mean, really, how could you know you’d love someone before you even met them?

But then, Bebeb, you happened. And now I know that you really could know you’d love someone before you even met them.

Dear Bebeb,

in just days, you will hopefully be brought by His will, into this world. It’s one crazy world, Bebeb, but it is also one heck of a beautiful one. Be prepared, my Bebeb.

I know I haven’t been the role-model mom-to-be. I didn’t keep track of your growth through my blog, nor a scrapbook, nor through emails like the Google Chrome ad. I didn’t start going to a pregnancy class until only last week. I haven’t been exercising as much as I should. But believe you me, Bebeb, I’m doing my best to welcome you.

I do exercise my breathing – although not too diligently. I also walk regularly – although not as often as I should. I do some stretching and some yoga – although only occasionally. But, hopefully more importantly, I’m embracing you fully with my heart and soul.

It’s hard to explain, really. It feels like I’m very ready to welcome you, Bebeb. Some may expect that I’d be afraid, but thanks to you (at least until now…), I feel no fear. I don’t think I feel any anxiety, either, and I think maybe that’s because I believe in you and me, Bebeb. And if He’s willing, we will be.

I don’t know what’s going to happen. But I know that we’ll make it through – both of us. I know your dad-to-be will also be there to make sure that we’ll make it through. Ya kan, Bebeb?

Dear Bebeb,

In just days, you will hopefully be brought by His will, into this world. And into my arms and your daddy’s arms. Everyone will be wanting to touch you, to hold you, to kiss you – everyone has been showering you with love even from now, Bebeb. You’re one loved child, that I know. So be strong, Bebeb, there is a whole world full of love and hope waiting for you to arrive.

And there are two happiest people – with bottomless love and hope – waiting for you to arrive. So be strong, Bebeb.

Love,

Me