Senam Hamil di RS Puri Indah

Senam Hamil di RS Puri Indah

Sebagaimana saya singgung di postingan lalu, saya baru mulai senam hamil di minggu ke-36. :D Harusnya katanya mulai minggu ke-30 ke atas sudah bisa ikutan senam hamil, tapi beberapa orang mengusulkan supaya ikutnya agak-agak belakangan saja, supaya nggak lupa nanti malah pas lagi bersalin.. Jadilah saya ikut di minggu ke-36.

Saya ikut senam hamil di RS Puri Indah, grup-nya RS Pondok Indah. Sebenarnya saya nggak periksa di RS tersebut, tapi berhubung jadwalnya seminggu 2 kali dan tidak tertutup khusus untuk pasien di sana dan lokasinya dekat dari rumah, jadi saya memutuskan untuk ikutan senam hamil di sana. (Daripada harus ke KMC yang jaraknya 1 jam – kalau nggak macet – dari rumah, dan hanya ada hari Sabtu pagi, dan harus daftar langsung di lokasi jam 7 pagi padahal kelasnya baru mulai jam 9… -_-” Um, thanks but no thanks. :D )

Walaupun saya datang tanpa pengharapan macam-macam – karena RS-nya relatif baru dan nggak banyak disebut di forum-forum bumil, ternyata kelas senam hamil di RS Puri Indah ini menyenangkan! Sarananya enak, nyaman, dan bidan yang mengajar juga cukup berpengalaman dengan suara yang enak didengar. Oiya, plus dapat minum, jus, dan kue-kue kecil. :D Harganya juga cukup murah, hanya Rp. 40.000 saja!

Biasanya kelas diawali dengan senam, dan kita diajari berbagai macam gerakan untuk meringankan rasa pegal-pegal di berbagai bagian tubuh yang umum dialami oleh para bumil. Gerakannya banyak fokus di kaki (untuk mengurangi kram dan bengkak), dan pinggang (untuk mengurangi sakit dan pegal). Setelah itu latihan pernapasan perut, pernapasan diafragma (atau iga-iga), dan pernapasan perut. Selain itu latihan juga pernapasan lanjutan – yang pendek-pendek dan berguna untuk rileks dan mengalihkan perhatian dari rasa ingin mengejan ketika kontraksi, tapi pembukaan belum lengkap.

Setelah itu untuk para bumil yang kandungannya berusia di atas 37 minggu diajarkan untuk mengejan yang benar. Ini bagian favorit, karena saya nggak bisa ngejan (!!). Jadi, rupanya yang seharusnya didorong dan dikuatkan itu adalah otot perut (seharusnya seperti ngeden kalau mau pup.. :D ), tapi yang saya dorong adalah otot leher… Alhasil muka merah dan panas rasanya… Sementara kata susternya, kalau ini kondisi sesungguhnya, “…dedek bayinya nggak keluar-keluar, bu, kepalanya….” -_-” Hosh! Ternyata ngeden aja butuh latihan… Hehehe…

Nah, di RS Puri Indah ini ada 2 jadwal kelas senam hamil, yaitu hari Rabu dan Sabtu, jam 9-11 pagi. Pendaftaran bisa melalui telpon, dan terbuka untuk umum, jadi tidak harus jadi pasien di sana. Walaupun ketika datang pertama kali tetap harus mengisi registrasi, dan akhirnya dibuatkan kartu pasien sih.. Tapi gratis, dan prosedurnya pun mudah.

Untuk kelas hari Rabu, ruangannya di klinik Obgyn lantai 7, karena pesertanya biasanya lebih sedikit. Tersedia 9 matras, masing-masing dengan bantal dan seprei cantik dan bersih warna pink. :) Kalau hari Sabtu, ruangannya di ruang konferensi lantai 5 – ruang Kenanga, karena pesertanya lebih banyak. Tersedia sekitar 15-20 matras untuk hari Sabtu.

Waktu saya pertama kali ikut hari Sabtu, pesertanya tidak terlalu banyak, hanya 11 orang. Tapi teman saya minggu lalu ternyata tidak kebagian tempat di hari Sabtu lalu, jadi usul saya, daftarlah sehari sebelumnya! Pendaftarannya di poli Obgyn, sebelum jam 7 malam kalau nggak salah.

Buat saya pribadi, kelas senam hamil di sini menyenangkan dan terjangkau dan memuaskan. Untuk bumil-bumil lain yang tinggal di sekitar Jakarta Barat dan tertarik untuk coba di RS Puri Indah, it’s recommended! :)

RS Puri Indah | (021) 2569 5222 – umum, (021) 2569 5200 (pendaftaran poli)

ps: foto menyusul yaa.. tadi lupaa… :P

The Little Things She Need…

The Little Things She Need…
The Little Things She Need…

Si Bebeb ini alhamdulillah, sejauh ini rejekinya bagus… Mudah-mudahan ke depannya bagus terus ya Beb… :)

Jadi, dari pihak keluarga Ei, Bebeb adalah (calon) cucu ke-6. Dan ke-5 orang kakaknya Bebeb ini perempuan semua… (dan hasil USG 3 kali menunjukkan kalau Bebeb juga perempuan…) Jadi, bahkan sebelum Bebeb 7 bulan di kandungan pun udah ada wacana barang-barang apa saja yang nggak perlu dibeli khusus untuk Bebeb karena bisa pakai barang lungsuran dari kakak-kakaknya itu…

Tapi, dari pihak keluarga ijke, Bebeb adalah (calon) cucu pertama! Jadi, semua orang excited menyambut Bebeb dan bela-beli barang-barang untuk Bebeb. Terutama neneknya dan om-nya.. :) Jadi, Bebeb gets the best of both world! Dapet barang-barang lungsuran, dan juga barang-barang lain yang masih fresh!

Yang bebeb dapat lungsuran adalah… (alhamdulillaah, thanks to my big sis…) stroller, car seat, baby carrier, baby wrap, steamer, breast pump, playpen (untuk di rumah Batam), baby crib, baju-baju cantik buat jalan-jalan kalau Bebeb udah agak besar, selimut-selimut fleece & rajut cantik-cantik, serta nggak ketinggalan gurita dan popok kain!

Dan yang Bebeb dibeliin baru oleh neneknya dan om-nya dan bapak dan mak-nya adalah… playpen (untuk di Jakarta), rocker (sengaja dibeliin yang bisa dari newborn-toddler – thanks to my little brother…), baju-baju yang tetep aja seabrek walaupun udah dapet lungsuran seabrek… :D

So, here they are… the little things she need…

A Note to Bebeb – on her 37th week

A Note to Bebeb – on her 37th week

Dear Bebeb,

When I first heard the song “I knew I loved you before I met you” from Savage Garden, I thought, “This has got to be the biggest b**lsh*t anyone could ever say to someone…”.  I mean, really, how could you know you’d love someone before you even met them?

But then, Bebeb, you happened. And now I know that you really could know you’d love someone before you even met them.

Dear Bebeb,

in just days, you will hopefully be brought by His will, into this world. It’s one crazy world, Bebeb, but it is also one heck of a beautiful one. Be prepared, my Bebeb.

I know I haven’t been the role-model mom-to-be. I didn’t keep track of your growth through my blog, nor a scrapbook, nor through emails like the Google Chrome ad. I didn’t start going to a pregnancy class until only last week. I haven’t been exercising as much as I should. But believe you me, Bebeb, I’m doing my best to welcome you.

I do exercise my breathing – although not too diligently. I also walk regularly – although not as often as I should. I do some stretching and some yoga – although only occasionally. But, hopefully more importantly, I’m embracing you fully with my heart and soul.

It’s hard to explain, really. It feels like I’m very ready to welcome you, Bebeb. Some may expect that I’d be afraid, but thanks to you (at least until now…), I feel no fear. I don’t think I feel any anxiety, either, and I think maybe that’s because I believe in you and me, Bebeb. And if He’s willing, we will be.

I don’t know what’s going to happen. But I know that we’ll make it through – both of us. I know your dad-to-be will also be there to make sure that we’ll make it through. Ya kan, Bebeb?

Dear Bebeb,

In just days, you will hopefully be brought by His will, into this world. And into my arms and your daddy’s arms. Everyone will be wanting to touch you, to hold you, to kiss you – everyone has been showering you with love even from now, Bebeb. You’re one loved child, that I know. So be strong, Bebeb, there is a whole world full of love and hope waiting for you to arrive.

And there are two happiest people – with bottomless love and hope – waiting for you to arrive. So be strong, Bebeb.

Love,

Me

Bumil kok masih nyetir?!

Bumil kok masih nyetir?!

Pertanyaan itu banyak saya dengar sejak saya kembali lagi ke Jakarta sekitar 2 minggu yang lalu. Mobilitas yang cukup tinggi dan jadwal kegiatan yang tidak terlalu fixed dari hari ke hari akhirnya membuat saya memutuskan untuk sesekali menyetir mobil sendiri. Kalau masih bisa diatur sih memang saya memilih untuk bisa nebeng siapa pun yang bisa ditebengin - lebih nyaman dan nggak bengong kalo di jalan macet… :D

Setiap kali ada yang mengetahui bahwa saya masih menyetir sendiri (di usia kandungan 26 minggu), banyak yang lantas bertanya, “Bumil kok masih nyetir sendiri?!”, “Emang nggak pa-pa?!”, “Emang boleh ya?!”. Jawaban saya selama ini enteng saja, “Kan deket…”, “Kan nggak terlalu macet…”, “Nggak pa-pa kok, alhamdulillah nggak ada masalah…”.

Tapi, lama-lama saya jadi penasaran juga… Ditambah, mamah juga berkali-kali mengingatkan, “Nggak bagus lho, kamu bawa mobil sendiri… Kan goncangannya bikin bebeb (si bayi) nggak nyaman.. Terus kamu kan nginjek gas-rem-gas-rem juga itu ngasih tekanan ke janin…”. Awalnya saya agak skeptis dan berpikir kalau mamah ini berlebihan… Tapi, katanya kalau sedang hamil nggak boleh durhaka dan ngrasani orang lain! Jadi, saya memutuskan untuk cari-cari info seputar hal ini.

Jadi, ternyata memang benar kalau menyetir sendiri di saat hamil, terutama hamil besar, itu sangat tidak dianjurkan. Dan ternyata memang goncangan yang dialami saat berada di mobil juga tidak baik – apalagi kalau terlalu keras. Jadi, disarankan untuk lewat jalan yang tidak berlubang-lubang, dan naik mobil yang bersuspensi lembut, biasanya yang menggunakan per keong.

Pakai sabuk pengaman juga harus – walaupun kadang rasanya memang kurang nyaman. Karena itu, sabuk pengaman harus dipakai di bawah perut, dan menyilang di depan dada. Kadang, kalau saya merasa itu masih kurang nyaman, sabuk pengamannya saya pakai di lutut (bukan di bawah perut), dan menyilang di depan dada. :D

Lalu, menyetir di saat hamil juga sebaiknya dilakukan sebelum usia kandungan mencapai 27 minggu atau sekitar 7 bulan. Setelah itu, sebaiknya tidak menyetir sendiri. Mungkin kecuali kepepet…

Well, setelah tahu bahwa ternyata memang pertanyaan dan kekhawatiran teman-teman dan keluarga itu punya dasar yang kuat, mungkin mulai minggu depan saya akan berhenti menyetir sendiri…

Untuk para penikmat hal-hal kecil dalam hidup…

Untuk para penikmat hal-hal kecil dalam hidup…

Hari ini Hari Blogger Nasional Indonesia – 27 Oktober, dan tulisan ini saya tulis untuk semua penikmat hal-hal kecil dalam hidup, bukan hanya teman-teman blogger dan yang punya blog saja. Kenapa? Karena buat saya, that’s what blogging makes me: enjoying the simple little things in life. Enjoy!

Jujur, walaupun memang saya punya blog, tapi saya nggak merasa sebagai seorang blogger. Bukan, bukan sombong, tapi rasanya kok nggak qualified untuk menyandang gelar blogger. Apalagi seperti yang terlihat jelas, postingan terakhir tertanggal 12 September, berarti lebih dari sebulan yang lalu. Jadi, well, agak malu juga kalo dibilang blogger.. :)

Tapi, yang jelas, saya juga bersyukur bisa punya blog dan (cukup) konsisten menulis selama 2 tahun terakhir. Sebelumnya, di tahun 2006 saya sudah pernah bikin blog. Maklum, waktu itu lagi hits banget punya blog… Tapi setelah 3 blogposts dia ditelantarkan – susah mendisiplinkan diri untuk rutin menulis. Tahun 2007 saya bikin lagi satu lagi – waktu itu untuk diskusi kelompok soal thesis yang sedang saya kerjakan bersama 2 orang teman saya. Yang ini berlanjut sampai 2009, tapi setelah itu juga berada di vegetable state.

Setelah mulai bekerja di industri PR dan social media, membuat blog jadi satu hal yang aneh kalau tidak dilakukan. Maka tahun 2009 pun saya mulai ngeblog lagi untuk diri sendiri, di blog ini. Dan ternyata masih berlanjut sampai sekarang! :)

Karena rasa lega (karena masih ngeblog), di hari Blogger Nasional ini saya jadi pingin berbagi sedikit tentang apa yang saya dapatkan #berkatngeblog. Tawaran menulis? Belum. Tawaran manggung? Apalagi. Teman-teman di banyak kota? Jelas. Pacar atau suami? Nggak. Jadi apa?

Buat saya, pengalaman yang paling berharga yang saya dapat #berkatngeblog adalah sesederhana belajar menghargai hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup, baik hidup saya sendiri maupun hidup orang lain. Belajar melihat hari-hari yang berlalu dari kacamata yang sedikit berbeda – lebih teliti, lebih ‘ngulik’ – nyari-nyari apa yang bisa dijadiin bahan ngeblog, lebih menikmati, dan lebih berusaha untuk mematri momen-momen kecil.

Kue yang enak, makan siang yang bikin kekenyangan, ngobrol dengan orang-orang yang inspiratif, tempat yang baru, meja kantor yang berantakan, rambut yang nggak mau nurut – ternyata ada banyak hal kecil yang membuat hidup jadi lebih punya cerita, dan bisa diceritakan lewat blog. Perkara banyak yang baca atau sedikit sih urusan belakangan yaa.. Tapi yang jelas untuk bisa mengapresiasi hal-hal tersebut, dan menikmati hal-hal itu, membuat saya senang memutuskan untuk ngeblog dan terus ngeblog sampai sekarang.

Anyways, tanpa berpanjang-panjang lagi, selamat hari blogger nasional ya, teman-teman! Tidak hanya untuk blogger dan mereka yang ngeblog, tapi untuk semua penikmat hal-hal kecil dalam hidup… Enjoy!

9/11: Lesson Learned?

9/11: Lesson Learned?

So, yesterday I favorited a tweet – something that I don’t do too often. But this one tweet – that shared a link to an article on The Rumpus - was great. Or rather, the article was great. Thanks to @DanielZiv and @legalnomads for sharing!

***

Yesterday’s timeline was filled with reflections, reminiscence, and recollection of a world-changing event that happened exactly a decade ago. The 9/11. For me the event bear somewhat a minimum impact because I have no primary, nor secondary, nor tertiary relatives that were affected by the event. I remember that I was in Norway for my exchange year when that happened, and I remember feeling worried because I was a moslem in a non-moslem country. But the worry proves to be vain – I spent my year in Norway as happy as I could be.

So there it was – the 9/11 left almost no impression for me. And I feel awful for not feeling ‘that much’ about an event ‘so big’.

Reading this brilliant article from Stephen Elliott made me realize that it’s not that awful to feel ‘that much’ about the 9/11, because the world is so big and there’s always so much going on. And on that dreadful day a decade ago – when approximately 2,900 Americans were killed, thousands of other people died as well. And it was not the event that matter; it was not how we felt that matter – but what we learned from it. In the article, it seems to me that Elliott wants to ask one big question: we say that the event taught us a lesson, that a lesson has been learned. But what have we learned?

You have to read the whole article yourself, it’s here on this link. But here’s my favorite paragraph:

If one of my relatives had died that day …

But, you see, none of them did. It felt fraudulent to me to appropriate the emotional life of those in mourning, to pretend those atrocities were something personal, to rhapsodize about national unity. What I felt was dread, a sense that my country was going to respond precisely as the terrorists intended: by becoming less human.

 

Lebaran Kali Ini

Lebaran Kali Ini

Lebaran kali ini punya banyak cerita. Cerita yang berbeda dengan cerita-cerita Lebaran saya sebelumnya – yang biasanya diwarnai dengan cerita nyekar ke Solo dan menginap di penginapan favorit keluarga saya di Desa Tembi, Bantul.

Cerita lebaran kali ini berbeda karena tahun ini settingnya berbeda. Tahun ini saya sudah menikah, tinggal di Batam (sambil bolak-balik Jakarta), bekerja lepas, dan hanya pulang ke Jakarta sebentar. Tahun ini juga diputuskan oleh ibu saya bahwa saya akan lebaran di Jakarta bersama mertua – sambil jaga rumah karena ART akan pulkam. Lalu, barulah di hari lebaran ketiga (ternyata jadinya hari lebaran kedua, berhubung lebarannya ‘diundur’) saya dan suami menyusul ke Jogja.

Beberapa hari sebelum lebaran pun saya dan Ei pulang ke Jakarta dengan penuh sukacita. Menyambut sahur yang tidak hanya berdua, buka puasa yang tidak hanya berdua, dan tentunya, makanan yang lebih bervariasi daripada sekedar nasi, oseng-oseng sayur, dan rendang kiriman mertua. :)

Sebelum lebaran, dinamika buka puasa dan sahur kami seperti bola ping-pong. Sahur di tempat mertua, buka di tempat orang tua saya, menginap di rumah ortu, kemudian besoknya buka di tempat mertua – demikian seterusnya sampai tanggal 29.

BUKA PUASA!! Alhamdulillaaah… 29 hari puasa berhasil dilalui, ketupat sudah tersaji di meja, jam setengah 6 kami semua sudah duduk manis dengan sepiring ketupat, sayur buncis, sambel goreng ati, semur, opor, dan kerupuk – ngobrol ngalor-ngidul tentang puasa dan lebaran esok hari. Jam 6 kurang seperempat mulai ada joke tentang sidang isbat pemerintah dan kemungkinan besok ternyata masih puasa – hahaha… Tentang tidak jadi takbiran, dan jadinya tarawih lagi – hahaha…

Jam 6, semua mulut sibuk mengunyah ketupat. Jam setengah 7, kekenyangan dan sholat maghrib, jam 7 kurang seperempat - joke sebelumnya menjadi semakin nyata seiring dengan berjalannya sidang isbat. Keluarga Ei terbagi dua opininya – sebagian yakin lebaran akan jatuh besok, tanggal 30; dan sebagian lagi yakin mengikuti pemerintah pada tanggal 31. Ayah mertua kelihatannya cenderung tanggal 31. Suasana mulai sedikit getir. Apalagi suasana hati saya.

Saya sangat yakin bahwa lebaran akan jatuh besok, tanggal 30. Sesuai dengan kalender. Kebetulan sama dengan Muhammadiyah. Sama dengan keluarga saya yang merayakan lebaran di Jogja – pasti semuanya lebaran besok. Kegetiran dan kebingungan tentang lebaran ini rasanya salah – karena sebelumnya tidak pernah begini. Sebelumnya kami selalu yakin tentang kapan akan berlebaran. Dan tahun ini, kapan akan berlebaran saja tidak yakin. Lebaran tahun ini jadi terlalu banyak bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Dan saya mulai merasa tidak nyaman.

Read the rest of this entry

Freelance: Job vs. Career

Freelance: Job vs. Career

Frase handalnya mas Rene mungkin bisa jadi titik awal refleksi ini, yang saya rasa banyak orang sudah tahu dan setuju. Your job is not your career. Pekerjaan Anda bukan karir Anda. Benarkah?

Siang ini, setelah pikiran ini diendapkan beberapa saat, dia lompat keluar lewat jemari saya di Twitter.

Buat saya, ini ungkapan hati yang sebenarnya. Setelah kerja freelance seumur jagung, sejak jaman kuliah dan lanjut lagi baru-baru ini, inilah yang terus muncul di pikiran saya. Saya punya pekerjaan, tapi tidak lagi punya karir. Pemasukan sih ada, tapi pencapaian (yang terstruktur) dan peningkatan-peningkatan (yang terstruktur) jadi tidak ada lagi.

Banyak yang tidak setuju dengan pendapat ini, termasuk mbak Sofi dan temannya teman yang namanya Iriel. Alasan tidak setujunya beda-beda, dan sama valid dan menariknya.

Menarik ya? Memang sih, mungkin beberapa pertimbangan untuk memilih berkarir (di kantor, perusahaan, dll.) adalah karena ada kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dan kemampuan, memperluas network, dan untuk mendapatkan apresiasi dalam bentuk yang konkrit – misalnya jabatan, gaji, tanggung jawab.

Sementara, kalau bekerja sebagai freelancer justru kita sendiri yang harus punya niat untuk mau mengembangkan kapasitas dan kemampuan, instead of hanya mengandalkan kemampuan yang sekarang kita miliki. Harus kita sendiri yang mencari dan mengembangkan networknya. Dan, yang jelas, rasanya nggak ada kenaikan jabatan kalau kerja jadi freelancer. Karena itu saya jadi bertanya, kalau jadi freelance, lantas karirnya apa?

Mungkin buka usaha sendiri, jadi pengusaha. That’s a great way to go. Mungkin kalau kerjaan sudah banyak, hire orang lain untuk membantu pekerjaan kita – that’s a way towards enterpreneurship. Tapi, bukan itu kan, karirnya freelance? For one, saya tahu saya sekarang bisa memberi “jabatan” apapun buat diri saya sendiri. “Social Media Strategist”. “Social Media Consultant”. Tapi nggak mungkin kan, kalau 6 bulan lagi saya lantas memberi “jabatan” baru buat saya sebagai “Senior Social Media Strategist”? Who’s my junior anyway?!

Lalu, di tengah-tengah diskusi batin itu Iriel menjawab:

Why so serious thinking about career path? You already made it!

Dan, diskusi batin itu pun berhenti. Kenapa harus serius beneeerr mempertanyakan tentang hal ini? Kenapa harus pusing soal jenjang karir dan karir? Karena toh sebenarnya apapun yang kita kerjakan sekarang sudah berada di “jalan yang benar” kan? Terlepas dari apakah nanti kita sendiri yang akan menyadari bahwa “jalan yang benar” ini ternyata tidak terlalu benar-benar amat….

So, why so serious? Your job is not your career. But whatever you do happily, that’s already your career path.

Minggu ke-10

Minggu ke-10

Dua-puluh-empat-hari yang lalu saya tahu bahwa ternyata ada si bebeb kecil yang berumur 6 minggu 6 hari yang mulai berdiam dan tinggal di dalam saya. Dua-puluh-empat-hari yang lalu saya juga tahu bahwa si bebeb besarnya hanya 1 cm, dan detak jantungnya jauh lebih cepat dari saya – 180 per menit. Mengetahui bahwa si bebeb ada dan bahwa dia tumbuh besar di dalam saya saya pikir akan membawa perubahan drastis dalam hidup saya, tapi ternyata tidak. Mungkin belum.

Saya masih tetap suka makan indomie, masih tetap malas memasak, masih tetap suka nyemil makanan yang ber-MSG, dan masih juga suka tidur. Yang terakhir ini bahkan semakin meningkat, sampai-sampai saya harus keluar rumah kalau mau bekerja, karena kalau nggak pasti saya akan tidur….

Sekarang, di minggu ke-10, si bebeb seharusnya sudah lebih besar, mungkin sebesar jeruk nipis. Tapi si bebeb belum mulai bergerak-gerak, dia masih fokus di menempel pada saya supaya nggak jatuh dari pegangannya. Tapi kata dokter dan buku panduan yang saya baca, sekarang ini perkembangan otak si bebeb sedang berada di tahap terpenting, jadi sejak 24 hari yang lalu saya harus minum suplemen asam folat untuk perkembangan otak si bebeb.

Sejak ada si bebeb, rasanya campur aduk. Senang, excited, tegang, khusyu’, lapar dan ngantuk, lebih awas, disayang, takut, dan, well…, khawatir. Khawatir apakah kondisi saya cukup sehat untuk menjaga si bebeb, khawatir apakah ada penyakit yang diam-diam ngumpet di pojokan dan siap menyerang saya dan si bebeb, juga khawatir yang egois – khawatir tentang hidup saya setelah ada si bebeb.

Bagaimana dengan rencana jalan-jalan ke Bunaken, Natuna, Derawan? Les diving? Keliling Turki dan Yunani? Kerja? Menengok teman baik saya di Amerika?

Berpikir tentang berbagai kekhawatiran yang egois itu membuat saya merasa sedikit bersalah. Tentunya saya nggak boleh egois, kan? Being a mom is anything but selfish. Seharusnya saya justru mulai memikirkan si bebeb, karena ini adalah tahapan penting dalam perkembangannya. Ya kan?

Tapi, mungkin di minggu ke-10 ini saya masih boleh egois. Masih boleh berpikir tentang saya, saya, dan saya – sebelum nantinya harus berbagi dengan si bebeb. Masih boleh berkhayal, masih bisa melakukan banyak hal buat saya, dan masih boleh jalan-jalan – jika memang saya kuat dan si bebeb mendukung. Ya kan?